My Notes

Posts Tagged ‘krl

Pasti sudah pada tau kan kalo sejak beberapa waktu yang lalu PT. KAI membuat kebijakan tentang adanya gerbong khusus wanita di KRL Jabotabek. Nah, entah betul atau tidak (karena saya belum menanyakan satu per satu), nampaknya sebagian wanita merasa senang dengan kebijakan ini karena dengan begitu mereka akan terhindar dari kejadian-kejadian buruk yang sering menimpa wanita.

Latar belakang kebijakan ini adalah sesaknya gerbong-gerbong kereta pada kondisi puncak sehingga sering terjadi pelecehan seksual. Dengan adanya pemisahan ini maka para wanita yang ingin aman dari risiko tersebut dapat memilih gerbong khusus wanita.

Namun anehnya hal ini bukanlah suatu kemajuan bagi dunia feminisme. Bagi mereka hal ini merupakan suatu kemunduran. Hal ini terlihat dari beberapa media memuat tulisan yang membahas hal ini. Ada juga sebagian wanita yang merasa adanya kebijakan ini menunjukkan bahwa wanita itu lemah sehingga harus dibuat gerbong khusus.

Dalam pandangan feminis, seharusnya manusia tidak dilihat dari seksualitasnya, namun dari kualitas dan kapasitasnya. Contoh sederhana misalnya dalam menduduki jabatan, yang harus dipertimbangkan adalah kemampuannya dalam menjalankan jabatan tersebut, bukan gendernya. Alkisah, Raden Ajeng Kartini didaulat menjadi simbol feminisme karena upayanya mendapatkan hak pendidikan yang setara bagi kaum wanita.

Saya dalam sebagian hal setuju dengan pandangan tersebut. Namun tentunya hal ini tidak mutlak berlaku dalam segala aspek karena pria dan wanita diciptakan berbeda.

Gerakan emansipasi wanita cukup berhasil di negeri ini. Tidak sedikit wanita yang bekerja menopang ekonomi keluarga. Kursi anggota dewan pun dijatahkan 30% untuk kaum hawa. Tak sedikit juga pemimpin dari menteri, gubernur atau bupati yang berasal dari kaum wanita. Bahkan sebagian menorehkan prestasi.

Namun emansipasi tidak dapat diterapkan dalam semua bidang. Misalnya di kereta. Seorang rekan saya mengeluh ketika seorang wanita muda memintanya untuk memberikan tempat duduknya kepada wanita itu. Katanya:

“Perempuan itu mau enaknya saja ya, ingin minta kesetaraan hak, tapi giliran nggak enaknya nggak mau”

Bagi saya tentu saja hal tersebut wajar karena pada dasarnya wanita ingin dilindungi. Ada ungkapan yang cocok mengenai hal ini. “Tidak ada tempat duduk bagi pria yang sehat di kereta”

Atau misalnya tentang gerbong wanita. Saya tidak setuju dengan para feminis yang memandang gerbong wanita sebagai kemunduran dalam feminisme. Justru hal tersebut bermaksud untuk menghormati kaum wanita.

Wanita dan pria berbeda. Dalam banyak aspek wanita dan pria memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun tetap saja dalam hal-hal tertentu ada kalanya kita harus mengakui kodrat kita sebagai pria atau wanita. Pemahaman feminisme yang salah kaprah yang ingin menyamakan segalanya alih-alih mengangkat harkat wanita malahan dapat merusak tatanan sosial.

Wanita diciptakan berbeda dengan pria. Wanita dan pria memiliki fungsi dan perannya masing-masing. Dalam keluarga suami wajib mencari nafkah dan istri tidak diwajibkan. Wanita hamil dan melahirkan sedangkan pria  tidak. Kerenanya perempuan seharusnya memiliki peran lebih dalam mendidik anak. Karena anak yang baik dan cerdas selalu lahir dari ibu yang baik dan cerdas pula. Di sinilah sebenarnya peran dasar wanita dalam membangun bangsa.

 

sumber gambar: disini

Kemarin lalu lintas Jakarta di sore hari sungguh kacau balau. Hujan yang mengguyur di sore hari menimbulkan kemacetan yang luar biasa sampai tengah malam. Alhasil orang-orang telat sampai rumah. Ketelatan berkisar 3 jam bahkan sampai 10 jam!!!

Beruntungnya saya kemarin pulang agak cepat dan berhasil mendapatkan kereta ekonomi ac sekitar pukul 6.15 di Duren Kalibata. Anehnya kereta yang saya tumpangi relatif kosong tidak seperti biasanya yang berjubel. Sepertinya para penumpang terjebak kemacetan sehingga tertahan dan belum sampai di stasiun.

Nah, saat kereta hendak melaju tentu saja pintu ditutup secara otomatis. Ketika saya masuk ke dalam gerbong  terdengar suara operator melalui pengeras suara yang ada di setiap gerbong.

“Para Penumpang yang terhormat, kereta ekonomi ac tujuan Bogor akan segera berangkat, dimohon kerjasamanya untuk tidak mengganjal pintu, atas perhatiannya, terima kasih”

Pada kondisi biasa, kereta sangat penuh bejubel sehingga menyebabkan pintu otomatis tertahan oleh penuhnya manusia. Sehingga mau tidak mau pintu sering terganjal dan terbuka seperti kereta ekonomi biasa saja.

Nah saya lanjutkan cerita saya. Karena saat itu kereta tidak terlalu penuh maka pintu di gerbong saya tertutup dengan mudah. Namun setelah itu kereta tidak kunjung melaju dan pintu terbuka kembali. Tiba-tiba operator kareta berbicara lagi melalui pengeras suara yang ada di gerbong:

“Para Penumpang dimohon kerjasamanya untuk tidak mengganjal pintu, Penumpang di gerbong paling belakang harap tidak mengganjal pintu, atas perhatinnya terima kasih”

Kemudian pintu berusaha ditutup kembali dan kereta pun melaju.

Sekilas tidak ada yang ganjil dari kejadian itu kecuali keheranan saya kenapa dalam kondisi tidak terlalu penuh masih ada penumpang yang bersikeras mangganjal pintu. Tiba-tiba saya menyadari satu hal.. Hei,,hei,, Bukankah gerbong paling belakang itu adalah gerbong khusus wanita??

Bayangkan hidup anda berubah drastis menjadi seorang tukang bakso. Entah bisa saja karena PHK, drop out kuliah, dan akhirnya yang anda miliki hanya skill membuat semangkuk bakso yang pernah anda pelajari dulu dari langganan tukang bakso di depan rumah Anda.

Anda yang galau namun punya sisa sedikit kecerdasan tentu tidak akan asal saja membuat bakso, namun Anda sadar kalau semuanya membutuhkan strategi. Lalu mulailah Anda menyusun rencana.

Beruntungnya Anda punya sedikit pesangon dan beruntungnya lagi  banyak teman Anda yang punya utang kepada Anda dan melihat kondisi Anda yang miris sehingga mereka mengembalikan utang-utang mereka sembari memberi tepukan di pundak Anda ketika Anda hendak pulang dan sedikit kata  “Yang sabar ya,,”.

Ditambah hasil penjualan beberapa barang kesayangan Anda maka akhirnya tekumpullah dana yang cukup untuk menyulap rumah mungil Anda menjadi warung bakso. Sembari memandangi uang yang terkumpul, terbersit di pikiran Anda, “Ya,,ya,, Mungkin memang takdir saya menjadi tukang bakso, mungkin memang saya tidak berbakat menjadi mahasiswa atau pegawai kantor, dan Mungkin Yang Maha Kuasa memberi saya jalan kesuksesan lewat jalan ini”. Secercah asa muncul di benak Anda, memberikan sentuhan ketenangan dan semangat untuk memulai hari yang baru.

Dekorasi warung dan segala tetek bengeknya sudah selesai dan Anda melaju pada tahap yang paling menentukan kesuksesan Anda. Meracik Semangkuk Bakso. Dengan segala upaya daya Anda membuat, meracik, maramu, mendesain, merekayasa, dan menyusun konfigurasi semangkuk bakso agar supaya dihasilkan semangkuk bakso yang maknyuss. Kalau maknyus insya4jji suatu hari nanti Bondan Winarno akan mampir ke kios anda bersama kru Trans TV.

Selesailah sudah semangkok bakso terhidang di hadapan Anda. Inilah tahap yang penting. Mencicipi. Bagaimana mungkin Anda tau maknyus atau tidak jika tidak anda cicipi? Maka Anda mengambil sendok dan mencicipinya sedikit. Weew,,, Aneh rasanya. Mungkin tadi pikiran Anda terlalu mengawang-ngawang saat memasak, sampai memikirkan Bondan segala, makadar itu hasilnya terlalu asin dan kurang ini itu. Tenang. Tetap Semangat. Anda lalu teringat kisah Thomas Alfa Edison kalau dia sudah mencoba 999 kali dan baru yang 1000 kali berhasil menemukan lampu listrik. Dengan semangat anda kembali meracik dan berusaha fokus dan tidak bepikir kemana-mana agar hasilnya maknyus.

Sebenarnya pola atau alur ketika merencanakan warung bakso sebenarnya sama saja dengan pola bisnis apapun. Hanya saja mungkin levelnya berbeda, bentuknya berbeda, besarnya berbeda.  Namun pada intinya kan sama-sama saja. Kita merancang produk, kemudian diuji apabila layak salanjutnya dijual. Dan tentunya bukan hanya polanya saja yang sama namun kiat suksesnya pada intinya sama saja.

Pagi ini saya membeli sebuah produk bernama “layanan KRL Jabodetabek”. Saya memilih yang murah meriah saja dan tentunya saya tidak mengharapkan pelayanan yang muluk-muluk. Setelah berdesak-desakan akhirnya sampai juga saya di tempat tujuan.

Sepanjang perjalanan saya sempat berpikir pernah nggak ya pak Direktur PT. KAI atau Pak Menteri Perhubungan nyicipi KRL Ekonomi jam 7 pagi dari Bogor. Bukan apa-apa. Sekadar mencicipi saja tak ada salahnya kan? Toh itu kan masuk dalam lingkup tanggung jawab mereka. Mencicipi biar sekadar tahu saja nggak lebih. Nanti pak menteri bisa turunnya di Juanda, nggak bisa di Gambir soalnya ekonomi nggak behenti di situ. Nanti dari sana bisa naik ojek ke kantor Bapak. Tapi saran saya nanti ajudan Bapak siap-siap aja di juanda takutnya Bapak pingsan pas turun. Ah, Tapi nggak usah gak apa-apa kok. Tiap hari banyak orang-orang yang naik tapi gak kenapa-kenapa juga, jadi nggak usah khawatir.

Tidak. Nggak. Nggak bisa kayak gitu. Nggak bisa dianalogikan seperti itu. Masak jualan bakso dianalogikan sama pelayanan kereta api. Masak pak Menteri disuruh berdesak-desakan naik krl dianalogikan sama tukang bakso yang nyicipin baksonya?? Kalo mau bikin analogi parameternya harus mempresentasikan dengan baik satu-sama lain dong,, ini kan beda..

Ini kan pelayanan publik. KRL murah kan stimulus ekonomi biar semua orang bisa kerja dan ekonomi berjalan. Karena itu kelas ekonomi pelayanannya gitu-gitu aja. Lagian gak tau apa kan krl itu disubsidi? Jadi analogi yang anda buat itu absurd tau nggak?. Absurd.

Pusing..

Saya memang tidak punya kapasitas untuk menganalisis fenomena ini. Saya ekonom bukan, pakar kebijakan pemerintah bukan. Makanya mikirin kayak gitu aja pusing jadinya. Tapi ini kan negara demokrasi jadi saya juga boleh dong berpendapat??

Mungkin ada perameter yang terlupakan dalam analogi saya. Di dunia Anda sebagai tukang Bakso, semua orang harus makan Bakso biar hidup, biar survive. Jadi anda sebagai penjual nggak usah bikin yang enak-enak gak apa-apa. Akan tetap laku apapun yang terjadi. Toh Anda sudah berbaik hati menjadikan harga bakso Cuma 2000 rupiah. Walaupun kadang ada pelanggan yang kadang muntah dan sakit perut di rumah. Yang penting hidup. Survive.