My Notes

Posts Tagged ‘Amerika


Suatu ironi yang amat menyesakkan dada ketika melihat masyarakat Papua yang dibiarkan bodoh dan miskin padahal mereka memiliki gunung emas di tanah yang mereka pijak. Penduduk asli papua ‘dilestarikan’, dibiarkan bodoh, bahkan dalam berpakaian pun masih dibiarkan primitif. Tanahnya yang kaya akan emas, perak, tembaga dan uranium tidak membuat mereka sejahtera. Sekelompok pengkhianat bangsa dan kroni-kroninya bekerjasama dengan sekelompok bangsa asing merampok dan menjarah Papua, membuat diri mereka sendiri kaya raya dan menyisakan kepedihan yang teramat sangat di tanah Papua.

Sampai hari ini masyarakat Papua masih dijerat dalam kemiskinan. Mereka hanya melihat dari luar gemerlap Freeport. Menonton tanpa daya saat berton-ton emas dan mineral lain diangkut oleh kapal-kapal Amerika, menghasilkan jutaan dollar yang dinikmati sekelompok orang  belahan Bumi yang lain.

Bukan hanya itu saja, pemerintah pun seakan tidak berdaya. Dari keuntungan perusahaan ini, hanya 1% saja yang diberikan kepada pemerintah Indonesia (sumber: IHSC). Bahkan, selama 20 tahun lebih mereka mengaku hanya menambang tembaga, padahal telah terbukti sejak tahun 1978 mereka menemukan emas di sana.

Seandainya saja semua kekayaan ini kita kelola sendiri, maka jumlah keuntungan yang didapat akan sangat luar biasa. Lebih dari cukup untuk mengadakan pendidikan dan kesehatan gratis di seantero Nusantara. Namun sayangnya Amerika menjajah. Amerika merampas. Padahal putra-putri bangsa ini lebih dari mampu untuk mengelola tambang tersebut. Sayangnya, pada suatu rezim dahulu ditekan kontrak oleh seorang pengkhianat (yang baru-baru ini diusulkan menjadi pahlawan nasional) yang isinya sangat merugikan bangsa ini. Padahal, undang-undang jelas mengamanatkan.

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (UUD Pasal 33 ayat 3)

Lihatlah gambar di awal tulisan ini. Papua benar-benar memiliki gunung emas, namun kini yang tersisa berupa kawah, sebuah refleksi ketamakan yang sungguh biadab. Sudah telambatkah kita menyelamatkannya? Belum. Para ahli memperkirakan masih terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1430 ton cadangan emas yang tersisa.

Hei Penjajah!! Enyahlah kau dari tanah Papua!! kami tidak akan membiarkan tanah kami diinjak-injak, Bumi kami dirampas, sedikitpun,,, Tidak akan..

Advertisements

Akhir-akhir ini marak diberitakan di media bagaimana perang mata uang antara Cina dan Amarika. Cina bersikeras menahan (mengintervensi) agar mata uangnya yuan tetap rendah dengan maksud agar ekspornya tetap tinggi, karena dengan rendahnya nilai yuan terhadap dolar, maka barang-barang Cina akan cenderung murah di pasar. Amerika dibuat pusing dengan kebijakan ini, karena dengan begitu barang-barang ekspor dari Amerika cenderung mahal sehingga kalah bersaing dengan produk-produk Cina di pasaran. Akibatnya pengangguran di Amerika meningkat kerena banyak industri yang gulung tikar. Nah lho?

Bingung kan jadinya. Lalu bagaimana dengan rupiah? Waktu kita kecil pasti mikir bagusnya rupiah nilainya semakin kuat. Kalo bisa semakin kuat sampe-sampe 1 rupiah sama dengan 1 dolar. Jadi kalo mau beli laptop yang harganya 1400 USD kita cuma butuh Rp 1.400,-. Wekwekwek,,, Mau jalan-jalan ke mana-mana pun murah.. Senangnya,,

Tapi itu justru sangat berbahaya? Loh Kenapa? Karena nanti indomie yang disini harganya Rp 1400,- yang diekspor ke Amerika gak bakalan laku karena harganya sama kaya laptop. Hohoho,,, Akibatnya di Indonesia juga pasti banyak yang di phk, Indofood nanti juga bangkrut, karyawannya jadi kasian kan.

Jadi?? Bingung kan? serba salah. Kalau terlalu kuat rupiah ekspor kita nggak laku, tapi kalau terlalu rendah kita nggak bakal mampu juga beli-bali barang impor seperti mobil dan alat-alat elektronik. Solusi yang pertama, kita harus jadi mandiri. Kita menyediakan kebutuhan kita sendiri, dan kita semua membeli produk kita sendiri. Jadi nggak takut ekspor turun karena toh pembeli domestik pun tinggi, dan masyarakat gak perlu takut barang impor mahal karena kita bisa produksi sendiri dengan harga rupiah jadi nggak peduli sama fluktuasi valas.

Tapi nggak bisa sepenuhnya seperti itu juga. Orang Amerika pasti pengen nyicipin rokok kretek buatan Kudus. Orang Indonesia pun pasti mau juga make sutra Cina atau makan coklat Swiss. Jadi pedagangan global pun tidak mungkin dihindari karena masing-masing negara punya komoditas yang berbeda, dan sifat manusia sebagai makhluk sosial pun berlaku, saling membutuhkan.

Jadi gimana kalau semua negara di dunia memakai mata uang yang sama? Misalnya pakai saja emas. Kan enak tuh. Nggak usah takut fluktuasi, nggak ada orang yang hidup dengan berjudi dengan valas. Hohohoho….

 

sumber gambar: disini