My Notes

Kemarin lalu lintas Jakarta di sore hari sungguh kacau balau. Hujan yang mengguyur di sore hari menimbulkan kemacetan yang luar biasa sampai tengah malam. Alhasil orang-orang telat sampai rumah. Ketelatan berkisar 3 jam bahkan sampai 10 jam!!!

Beruntungnya saya kemarin pulang agak cepat dan berhasil mendapatkan kereta ekonomi ac sekitar pukul 6.15 di Duren Kalibata. Anehnya kereta yang saya tumpangi relatif kosong tidak seperti biasanya yang berjubel. Sepertinya para penumpang terjebak kemacetan sehingga tertahan dan belum sampai di stasiun.

Nah, saat kereta hendak melaju tentu saja pintu ditutup secara otomatis. Ketika saya masuk ke dalam gerbong  terdengar suara operator melalui pengeras suara yang ada di setiap gerbong.

“Para Penumpang yang terhormat, kereta ekonomi ac tujuan Bogor akan segera berangkat, dimohon kerjasamanya untuk tidak mengganjal pintu, atas perhatiannya, terima kasih”

Pada kondisi biasa, kereta sangat penuh bejubel sehingga menyebabkan pintu otomatis tertahan oleh penuhnya manusia. Sehingga mau tidak mau pintu sering terganjal dan terbuka seperti kereta ekonomi biasa saja.

Nah saya lanjutkan cerita saya. Karena saat itu kereta tidak terlalu penuh maka pintu di gerbong saya tertutup dengan mudah. Namun setelah itu kereta tidak kunjung melaju dan pintu terbuka kembali. Tiba-tiba operator kareta berbicara lagi melalui pengeras suara yang ada di gerbong:

“Para Penumpang dimohon kerjasamanya untuk tidak mengganjal pintu, Penumpang di gerbong paling belakang harap tidak mengganjal pintu, atas perhatinnya terima kasih”

Kemudian pintu berusaha ditutup kembali dan kereta pun melaju.

Sekilas tidak ada yang ganjil dari kejadian itu kecuali keheranan saya kenapa dalam kondisi tidak terlalu penuh masih ada penumpang yang bersikeras mangganjal pintu. Tiba-tiba saya menyadari satu hal.. Hei,,hei,, Bukankah gerbong paling belakang itu adalah gerbong khusus wanita??

Advertisements

Akhir-akhir ini marak diberitakan di media bagaimana perang mata uang antara Cina dan Amarika. Cina bersikeras menahan (mengintervensi) agar mata uangnya yuan tetap rendah dengan maksud agar ekspornya tetap tinggi, karena dengan rendahnya nilai yuan terhadap dolar, maka barang-barang Cina akan cenderung murah di pasar. Amerika dibuat pusing dengan kebijakan ini, karena dengan begitu barang-barang ekspor dari Amerika cenderung mahal sehingga kalah bersaing dengan produk-produk Cina di pasaran. Akibatnya pengangguran di Amerika meningkat kerena banyak industri yang gulung tikar. Nah lho?

Bingung kan jadinya. Lalu bagaimana dengan rupiah? Waktu kita kecil pasti mikir bagusnya rupiah nilainya semakin kuat. Kalo bisa semakin kuat sampe-sampe 1 rupiah sama dengan 1 dolar. Jadi kalo mau beli laptop yang harganya 1400 USD kita cuma butuh Rp 1.400,-. Wekwekwek,,, Mau jalan-jalan ke mana-mana pun murah.. Senangnya,,

Tapi itu justru sangat berbahaya? Loh Kenapa? Karena nanti indomie yang disini harganya Rp 1400,- yang diekspor ke Amerika gak bakalan laku karena harganya sama kaya laptop. Hohoho,,, Akibatnya di Indonesia juga pasti banyak yang di phk, Indofood nanti juga bangkrut, karyawannya jadi kasian kan.

Jadi?? Bingung kan? serba salah. Kalau terlalu kuat rupiah ekspor kita nggak laku, tapi kalau terlalu rendah kita nggak bakal mampu juga beli-bali barang impor seperti mobil dan alat-alat elektronik. Solusi yang pertama, kita harus jadi mandiri. Kita menyediakan kebutuhan kita sendiri, dan kita semua membeli produk kita sendiri. Jadi nggak takut ekspor turun karena toh pembeli domestik pun tinggi, dan masyarakat gak perlu takut barang impor mahal karena kita bisa produksi sendiri dengan harga rupiah jadi nggak peduli sama fluktuasi valas.

Tapi nggak bisa sepenuhnya seperti itu juga. Orang Amerika pasti pengen nyicipin rokok kretek buatan Kudus. Orang Indonesia pun pasti mau juga make sutra Cina atau makan coklat Swiss. Jadi pedagangan global pun tidak mungkin dihindari karena masing-masing negara punya komoditas yang berbeda, dan sifat manusia sebagai makhluk sosial pun berlaku, saling membutuhkan.

Jadi gimana kalau semua negara di dunia memakai mata uang yang sama? Misalnya pakai saja emas. Kan enak tuh. Nggak usah takut fluktuasi, nggak ada orang yang hidup dengan berjudi dengan valas. Hohohoho….

 

sumber gambar: disini

Akhir-akhir ini keruwetan di Jakarta semakin menjadi-jadi. Kemacetan semakin parah membuat waktu tempuh semakin lama. Busway yang pada mulanya menjadi harapan nampaknya tidak mampu menarik para pengguna kendaraan pribadi. Bahkan pelayanannya semakin berkurang, antrian mengular sampai keluar halte, kedatangan bis yang kadang telat, dan banyak koridor-koridor yang belum beroperasi sehingga halte-halte yang telah dibangun pun rusak.

Transportasi massal yang tak kunjung terealisasi menyebabkan pertumbuhan kendaraan pribadi semakin meningkat. Jumlah sepeda motor meningkat dengan angka yang mencengangkan. Seperti semut liar yang memenuhi jalan-jalan sepanjang hari.

Belum lagi masalah banjir yang selalu menggenangi jalanan membuat kemacetan semakin menjadi-jadi. Mall, gedung, dan aparteman bermunculan semakin mengurangi ruang terbuka hijau. Pembangunan dengan reklamasi pantai dibiarkan padahal tentunya berpotensi merusak lingkungan.

Arus urbanisasi setiap tahun pun tidak terkontrol. Pemukiman kumuh muncul dimana-mana. Anak jalanan tidak terurus. Semakin banyak pengemis di sudut-sudut kota. Program rumah susun pun tidak terdengar gaungnya.

Bagaimanapun juga harus dilakukan perubahan. Kepemimpinan yang sekarang ini jangan minim inisiatif. Bukan hanya butuh kepintaran (Pak Fauzi itu doktor ilmu perencanaan kota lulusan Jerman), tapi perlu juga kejujuran dan keberanian.

Namun, apa lacur. Foke yang telah tiga tahun memimpin bahkan mengatakan angkat tangan saat ditanya soal kemacetan. Kalau begitu buat apa jadi gubernur? Menjadi pemimpin seharusnya memiliki makna bahwa ia menyerahkan hidupnya demi melayani rakyat. Tapi kalau niatnya hanya untuk harta dan kekuasaan saran saya lebih baik mengundurkan diri saja.

sumber gambar: Kompas, jumat 8 okt 2010 hal 27

 

KTP

Posted on: October 6, 2010

Beberapa waktu lalu gw pergi ke suatu gedung kantor dimana securitynya mewajibkan pengunjung untuk meninggalkan identitas di posnya terus dituker sama id visitor yang harus kita pasang di baju kita. Apa boleh buat kemudian gw mengambil dompet dengan maksud mencari ktp gw untuk dikasi ke satpam. Namun tanpa disangka-sangka benda yang dicari tidak ada pada tempatnya. Ktp gw gak adaaa!!

Tentunya kejadian ini tidak gw sangka sebelum-sebelumnya dan otak gw berpikir keras kemanakah gerangan ktp ini telah pergi?? Tentu saja seperti kebiasaan orang-orang, pertanyaan yang perlu dijawab adalah kapan dan dimana dia terakhir terlihat? Seinget gw, sekitar satu bulan yang lalu dia nampaknya masih ada di tempatnya saat gw mengisi suatu formulir yang meminta nomor id ktp. Setelah itu nampaknya gw yakin tidak pernah ada keperluan untuk mengeluarkan ktp ini.

Tentu saja kehilangan ktp merupakan suatu masalah besar yang harus dihadapi dengan sabar. Karena mengurusnya kembali sungguh merepotkan karena harus buat surat kehilangan, rt/rw, kelurahan dan kecamatan. Apalagi beberapa waktu lalu sempat dilakukan oparasi yustisia yang berdasarkan infotainment bahkan vokalis geisha terjaring operasi ini. Kalo gw terkena operasi ini tentu akan menambah panjang deret artis yang terkena operasi ini,, hohoho..

Marilah selanjutnya dibuat kemungkinan-kemungkinan apakah yang terjadi pada ktp gw itu. Kemungkinan untuk terjatuh dari dompet sepertinya mustahil terjadi. Jadi hanya ada dua kemungkinan saja. Yang pertama adalah gw tidak mengembalikan ktp itu kepada tempatnya semula saat gw mengeluarkan untuk mengisi formulir. Kalau ini terjadi berarti ktp gw terselip entah dimana di lokasi gw mengisi formulir yaitu di kantor. Tapi sepanjang ingatan gw, gw telah memasukkannya kembali ke tempatnya semula. Kemungkinan kedua adalah terjadi peristiwa yang menyebabkan dikeluarkannya ktp itu dari dompet setelah peristiwa pada kemungkinan pertama dan gw tidak mengembalikannya kembali ke dompet seperti semula.

Tiba-tiba gw tersentak oleh sebuah suara

“mas, kartu identitasnya ada nggak?”

Huh, nampaknya pikiran gw telah melayang jauh namun sebenarnya gw masih berdiri di pos security yang meminta kartu identitas gw.

“pake SIM aja ya mas,, ini,,,”, gw menjawab

“iya nggak apa-apa pake SIM juga…”

Baiklah urusan ini sementara selesai dan akhirnya gw bisa masuk gedung itu. Nah kembali lagi ke topik utama kemanakah gerangan ktp gw menghilang. Ada dua kemungkinan. Yang pertama terselip di kantor dan yang kedua gw lupa pernah ngeluarin lagi setelah itu tapi lupa. Jadi ada dua hal yang perlu lakukan. Yang pertama tentu saja gw harus mencari di kantor dan nanya-nanya orang kantor siapa tau pernah melihat ktp gw. Dan ternyata hasilnya nihil. Artinya sepertinya ktp gw itu telah gw kembalikan ke dompet seperti semula. Jadi kemungkinan kedua sepertinya yang telah terjadi. Gw mencoba mengingat-ingat peristiwa demi peristiwa yang pernah gw lalui yang pernah melibatkan ktp. Dan nampaknya usaha ini pun tidak memberikan hasil yang lebih baik.

————

Hingga suatu malam saat di perjalanan pulang gw teringat kalo gw pernah menyeken (scan) ktp gw itu untuk suatu urusan. Bisa jadi ktp itu masih terselip dalam scanner. Tapi tunggu dulu. Gw harus mastiin bahwa peristiwa penyekenan (scan) itu terjadi setelah peristiwa pengisian formulir karena nggak mungkin si ktp itu gw pake buat ngisi formulir kalo sebelumnya masih terselip dalam scanner. Wekwekwek,,,,,

Ya. Peristiwa itu terjadi setelah pengisian formulir. Jadi kemungkinan besar ktp gw masih terselip dalam scanner. Bisa jadi waktu itu gw nyeken (scan) dan terlalu girang dengan hasil scan di computer sehingga ktp aslinya telupakan terselip ribuan tahun dalam scanner. Hohoho..

Sesampainya di rumah langsung saja gw menghampiri scanner dan ternyata gw menemukannya terselip di dalamnya. Alhamdulilllah akhirnya ketemu juga dan gw nggak harus repot-repot capek-capek ngurusin ktp.

Suatu petang, kopaja 620 yang gw naikin terseok-seok sepanjang Pancoran-Pasar Minggu. Menurut gw sih ruas ini adalah yang paling super duper macet di Jakarta. Untungnya obrolan anak dan ibu di belakang gw mampu “mengalihkan duniaku”… wekwek,,,

——

Anak  : Bunda,,,, bunda,,,,,,,

Ibu: Apa sayang…

Anak: Kok bis yang ini beda ya mah sama yang bis waktu kita ke Palembang,, nggak ada tempat buat ngerokoknya??

Dasar bocah, kok bisa sih dia ngebedaiinnya dari tempat ngerokoknya, udah jelas pasti semuanya beda masa kopaja dibandingin sama bis antar kota…..

Ibu: ya beda lah sayang, yang ke palembang kan bis ke luar kota, jadi ada tempat ngerokoknya, malahan ada kamar mandinya…

Anak: Emang ada kamar mandinya yah bunda?

Ibu: iya,,, masak kamu nggak inget,, waktu itu kamu pipis dimana coba?

Anak: ,,,,,, oh iya yah,,,,,,

Saat itu hujan deras mengguyur, si anak sepertinya memperhatikan wiper bis yang tidak berfungsi

Anak: Bunda,,, kok wipernya nggak dinyalain bunda..? kan jadi tidak terlihat bunda?

Gw gak denger obrolan sebelumnya karena ketutup suara bis, entah si anak itu udah tau istilah wiper atau dikasi tau ibunya..

Ibu: Rusak sayang,,, ini hujannya belum terlalu deras, jadi tidak apa, masih terlihat..

Anak: oh,, kalo rusak kenapa nggak diperbaiki Bunda?

Ibu: Iya, nanti diperbaiki di bengkel,,,,

Anak: Kok tidak sebelumnya diperbaiki Bunda?

Ibu: kan baru rusaknya sekarang sayang, nanti kalau sudah tidak mengangkut orang lagi baru diperbaiki di bengkel

Anak: oh,,,

Tiba-tiba ada pengamen masuk, dua orang, satu dengan biola satu lagi menyanyi sambil main gitar. Saat pengamen beraksi si anak sepertinya diam saja. Setelah turun baru ngoceh lagi..

Anak: Bunda,, kenapa mereka nyanyi di bis bunda?

Ibu: Dia latihan sayang, buat nanti tampil di tempat lain

Anak: oh latihan yah bunda…

Ibu: iya, nanti kalau banyak orang yang ngasi uang artinya orang-orang suka sama nyanyiannya.. kamu suka?

Anak: (mengangguk)

Anak: Bunda,, bolah nggak aku duduk di depan?

Bunda: tidak boleh, nanti kalau bunda turun kamu nggak tau gimana?

Anak: Bunda, boleh tidak aku duduk di dekat jendela?

Bunda: Jangan, nanti kamu kena hujan,, nanti kalau kamu sudah besar baru boleh duduk sendiri..

dan seterusnya sepanjang jalan si anak gak berhenti nanya ini itu……..

——-

Nggak terasa tau-tau dah nyampe pasar minggu. Sumpeh deh anaknya bawel banget semuanya ditanyain,, 😀

Tags: , , ,


Kalo orang Inggris sarapan toast, daging dan tomat goreng plus secangkir kopi, orang amerika  sarapan scrambled egg dan sari jeruk atau sereal, orang Indonesia sarapan bubur ayam. Menu sarapan di Indonesia sebenarnya banyak juga, yang umum selain bubur ayam ada nasi gorang, nasi uduk, bubur kacang hijau, bubur sumsum atau lontong sayur (dan banyak lagi tentunya).

Bicara tentang bubur ayam tentu ada beribu macam varian di Indonesia. Ya sayangnya berhubung saya orang Bogor dan sangat jarang keluar kota apalagi ke luar negeri, kali ini saya mau mengulas tipe-tipe varian bubur ayam yang pernah saya cicipi saja.

Sebelumnya untuk mempermudah mari kira kelompokkan komponen dari semangkuk bubur ayam. Berdasarkan RSNI nomer 03-6652-2002 suatu makanan akan disebut sebagai bubur ayam apabila mengandung sedikitnya lima kompenen berikut; 1. Bubur, 2. Ayam yang disuir-suir (baku nggak yah bahasanya?), 3. Bumbu 4. Krupuk 5. Lain-lain (kecap, kacang, usus, hari, bawang goreng). Bubur sendiri bervariasi nggak jauh di lima komponen utama tersebut.

Bubur dalam hal ini adalah nasi yang dimasak sampai menjadi bubur. Berdasarkan pengalaman gw ada dua jenis bubur ini. Yang pertama yaitu di buburnya udah dikasi garam sewaktu di masak jadi rasa asinnya udah nyatu di dalam bubur. Yang kedua buburnya tawar nggak dikasi garam, dan dikasi garam dengan cara ditaburi di atas buburnya saat dituang di mangkuk. Sensasi rasa dari kedua jenis bubur ini cukup terasa. Tipe pertama rasa asinnya menyatu, sehingga rasa dasar si bubur yang tawar sudah hilang menjadi rasa asin. Rasa asinnya kontinyu (ini istilah matematika gan). Dan rasa asinnya pun bukan rasa garam asli karena sudah nyampur sama butiran nasinya. Tipe kedua, klo gw bilang kata yang paling tepat untuk menggambarkan, yaitu rasa asinnya diskret (kalo agan bingung apa maksudunya cek disini). Rasa asinnya jadi tidak menyatu cuman tersebar menjadi titik-titik dimana garam itu jatuh. Efeknya tentunya rasa tawar si bubur itu masih kerasa ditambah rasa asli garam yang kerasa di titik-titik tertentu membuat sensasi yang paling gw suka. Berdasarkan pengamatan gw tipe di daerah Jakarta semua buburnya tipe pertama, dan tipe kedua baru gw jumpai di daerah gw, Bogor.

Dari segi bumbu berhubung gw bukan orang yang ahli dan peka dalam kuliner gw gak terlalu ngerti banget. Secara umum ada dua kecenderungan jenis bumbu yaitu tipe asin dan tipe manis. Walaupun begitu bukan berarti yang asin nggak ada manisnya dan sebaliknya, mungkin lebih tepat gw menyebutnya dominan manis dan dominan asin. Dari bumbunya ada yang pake semacam bumbu opor yang mengandung santan dan lebih banyak gw temuin pake cairan coklat dalam botol yang gw gak tau itu kandungannya apa dan ada lagi (baru-baru ini gw nemu) yang pake semacam bumbu sop atau soto (sebenarnya sih bukan sop atau soto, cumin mirip, jadi maaf gw gak bisa ngejelasin lebih baik dari kata ini). Jenis opor atau bumbu sop/soto itu umumnya dominan asin, walaupun biasanya yang opor itu dikasi sedikit kecap, tapi untuk tipe bumbu sop/soto gak pake kecap. Untuk tipe cairan coklat dalam botol rata-rata dominan asin, walaupun di beberapa tempat ada yang cairan coklat dalam botolnya dominan manis. Dan walaupun gak tepat, tapi bubur di bogor cenderung asin dan di Jakarta rata-rata manis.

Selanjutnya untuk ayam semuanya sama, ayam yang disuir-suir. Krupuk macem-macem yang dipake dan ada juga yang pake emping. Kalo yang lain-lainnya seperti kacang, usus, hati, bawang goreng, seledri, menurut gw standar-standar aja dan gak mempengaruhi rasa si bubur ayam secara signifikan.

Nah, dari perilaku orang yang makan bubur ada dua jenis dari yang gw perhatikan. Ada mazhab kontinyu dan mazhab diskret. Para penganut kontinyu mengaduk-ngaduk si bubur sehingga menjadi nyatu semua dari bubur, ayam, bumbu dan pernah-perniknya. Hasil pengadukan tersebut kalo gw perhatikan menjadi semacam bentuk visual makanan yang menjijikkan walaupun rasanya tidak menjijikkan. Sedangkan penganut mazhab diskret tidak mengaduk tapi membiarkan apa adanya si bubur, ayam dan bumbunya. Gw sendiri adalah penganut mazhab diskret sejati.

Salah satu tempat bubur favorit gw adalah bubur di samping Matahari dept Store, deket stasiun. Tempat itu sebenarnya selain menjual bubur menjual banyak yang lain seperti soto, sate, nasi goreng, nasi uduk dll. Ada yang shift pagi dan ada yang shift siang-malam. Tukang buburnya pun ada yang pagi ada yang siang. Keduanya jenisnya sama, bubur diskret dengan cairan coklat dalam botol cenderung asin plus emping dan pernak-perniknya. Tapi kalo mau dibandingin gw lebih suka yang shift pagi.

Jack : si AU yang mana Jo, yang ada kacanya apa nggak?

Jo    : bukan yang itu, itu mah punya si DT, berarti yg satunya lagi yg ada kacanya…

Memet : Jo,, si JFK nginep yah? Kok jam segini belom nongol..

Jo : iya, tadi pagi dia bilang nginep. Tapi gak tau nih kalo JTR,,

———–

Dimanakah percakapan ini terjadi?

Yup, Jo, Jack dan Memet adalah penjaga di tempat penitipan motor di stasiun. Lucu juga, mereka kadang nggak apal nama tapi jenis motor dan plat nomer pelanggannya sudah di luar kepala. Awalnya yang bekerja di sana Jack sama Jo, tapi belakangan ini karena semakin ramai dibantu sama Memet.

Pertama kali nitipin motor di sana gw minta semacam karcis tanda bukti gitu karena gw khawatir kenapa-napa , jadi kan ada buktinya tuh. Tapi semakin hari semakin kenal jadi gak pake tuh karcis-karcis lagi. Lama-lama bahkan kunci, stnk, jaket dan anak (loh?) pun dititipin ke dia.

——

Khas Indonesia. (Loh? Apaan sih?). Maksud gw cerita tadi itu menggambarkan budaya Indonesia. (Yang mananya bos?). Ya, maksudnya interaksi, kekeluargaan dan kepercayaan itu khas Indonesia. (ah masak sih??). Bayangin di negara maju gak bakalan ada pola yang kayak gitu, pasti semua pake yang resmi, ada karcis dan sebagainya. Di Jepang bahkan penitipan sepeda pake mesin.

Di negara maju mau beli minum aja tinggal masukin koin, mau bayar bis tinggal gesek kartu, nyuci mobil tinggal masukin ke mesin pencuci, semuanya serba mesin. Mesin ini meninggalkan peran manusia sehingga interaksi menjadi minim. Makanya negara-negara maju orangnya cenderung individualis. Di Indonesia jauh berbeda. Di pertigaan deket rumah gw aja yang jelas-jelas udah ada lampu merahnya masih ada polisi cepek. Di kereta, minuman ditawarin sama penjualnya langsung. Mau bayar bis kadang musti cekcok dulu sama kernetnya.

Bagi gw interaksi kayak gitu memunculkan sebuah rasa yang berbeda. Ada semacam nuansa karena melibatkan pandangan mata, susunan kata, raut wajah, nada bahkan melibatkan hati dimana tiap variabel tersebut menentukan kualitas interaksi kita. (lebay ah..). Interaksi yang baik menghasilkan pertemanan, persahabatan, cinta, kepercayaan, kekeluargaan tergantung subjek dan objek interaksinya.

Belakangan ini majunya teknologi bagi gw mengurangi kualitas interaksi kita. Dulu kalo seorang kekasih membuat surat cinta di kertas dan diselipkan di laci meja, abad ini orang menggunakan sms, imel, fesbuk, twiter. Dulu kalau tiap hari raya pak pos sering datang nganterin kartu ucapan, sekarang nggak ada lagi, yang ada sms yang berdering gak berhenti-henti.

Kenapa mengurangi kualitas interaksi? Karena dalam interaksi seharusnya ada rasa yang tersampaikan. Rasa ini yang kadang menurut gw tidak tersampaikan dalam komunikasi di era modern ini. Sebenarnya ada cinta dalam goresan pena dan ada rasa yang ikut dalam sebuah kartu ucapan. Ada sesuatu yang kurang dalam sms, komen di wall fb, twit. Ada rasa yang tertinggal. (loh kok st12??)

—-

(ah, itu mah elunya aja yang melankolis romantis,, ini zaman modern cuy,, orang bisa menghasilkan jutaan dolar dari internet!!)