My Notes

Archive for November 2010


Suatu ironi yang amat menyesakkan dada ketika melihat masyarakat Papua yang dibiarkan bodoh dan miskin padahal mereka memiliki gunung emas di tanah yang mereka pijak. Penduduk asli papua ‘dilestarikan’, dibiarkan bodoh, bahkan dalam berpakaian pun masih dibiarkan primitif. Tanahnya yang kaya akan emas, perak, tembaga dan uranium tidak membuat mereka sejahtera. Sekelompok pengkhianat bangsa dan kroni-kroninya bekerjasama dengan sekelompok bangsa asing merampok dan menjarah Papua, membuat diri mereka sendiri kaya raya dan menyisakan kepedihan yang teramat sangat di tanah Papua.

Sampai hari ini masyarakat Papua masih dijerat dalam kemiskinan. Mereka hanya melihat dari luar gemerlap Freeport. Menonton tanpa daya saat berton-ton emas dan mineral lain diangkut oleh kapal-kapal Amerika, menghasilkan jutaan dollar yang dinikmati sekelompok orang  belahan Bumi yang lain.

Bukan hanya itu saja, pemerintah pun seakan tidak berdaya. Dari keuntungan perusahaan ini, hanya 1% saja yang diberikan kepada pemerintah Indonesia (sumber: IHSC). Bahkan, selama 20 tahun lebih mereka mengaku hanya menambang tembaga, padahal telah terbukti sejak tahun 1978 mereka menemukan emas di sana.

Seandainya saja semua kekayaan ini kita kelola sendiri, maka jumlah keuntungan yang didapat akan sangat luar biasa. Lebih dari cukup untuk mengadakan pendidikan dan kesehatan gratis di seantero Nusantara. Namun sayangnya Amerika menjajah. Amerika merampas. Padahal putra-putri bangsa ini lebih dari mampu untuk mengelola tambang tersebut. Sayangnya, pada suatu rezim dahulu ditekan kontrak oleh seorang pengkhianat (yang baru-baru ini diusulkan menjadi pahlawan nasional) yang isinya sangat merugikan bangsa ini. Padahal, undang-undang jelas mengamanatkan.

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (UUD Pasal 33 ayat 3)

Lihatlah gambar di awal tulisan ini. Papua benar-benar memiliki gunung emas, namun kini yang tersisa berupa kawah, sebuah refleksi ketamakan yang sungguh biadab. Sudah telambatkah kita menyelamatkannya? Belum. Para ahli memperkirakan masih terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1430 ton cadangan emas yang tersisa.

Hei Penjajah!! Enyahlah kau dari tanah Papua!! kami tidak akan membiarkan tanah kami diinjak-injak, Bumi kami dirampas, sedikitpun,,, Tidak akan..

Advertisements

Beberapa waktu lalu ketua DPR kita pak Juki melakukan bulnder besar. Bagaimanapun juga pernyataannya tidak menunjukkan kecerdasan, empati dan kepemimpinannya sebagai ketua parlemen. Berikut ini opini yang dimuat di salah satu surat kabar dan balasannya dari pak Juki.

 

klik untuk memperbesar artikel

sumber: kompas, 1 Nov 2010

 

 

sumber: kompas, 4 Nov 2010

Pasti sudah pada tau kan kalo sejak beberapa waktu yang lalu PT. KAI membuat kebijakan tentang adanya gerbong khusus wanita di KRL Jabotabek. Nah, entah betul atau tidak (karena saya belum menanyakan satu per satu), nampaknya sebagian wanita merasa senang dengan kebijakan ini karena dengan begitu mereka akan terhindar dari kejadian-kejadian buruk yang sering menimpa wanita.

Latar belakang kebijakan ini adalah sesaknya gerbong-gerbong kereta pada kondisi puncak sehingga sering terjadi pelecehan seksual. Dengan adanya pemisahan ini maka para wanita yang ingin aman dari risiko tersebut dapat memilih gerbong khusus wanita.

Namun anehnya hal ini bukanlah suatu kemajuan bagi dunia feminisme. Bagi mereka hal ini merupakan suatu kemunduran. Hal ini terlihat dari beberapa media memuat tulisan yang membahas hal ini. Ada juga sebagian wanita yang merasa adanya kebijakan ini menunjukkan bahwa wanita itu lemah sehingga harus dibuat gerbong khusus.

Dalam pandangan feminis, seharusnya manusia tidak dilihat dari seksualitasnya, namun dari kualitas dan kapasitasnya. Contoh sederhana misalnya dalam menduduki jabatan, yang harus dipertimbangkan adalah kemampuannya dalam menjalankan jabatan tersebut, bukan gendernya. Alkisah, Raden Ajeng Kartini didaulat menjadi simbol feminisme karena upayanya mendapatkan hak pendidikan yang setara bagi kaum wanita.

Saya dalam sebagian hal setuju dengan pandangan tersebut. Namun tentunya hal ini tidak mutlak berlaku dalam segala aspek karena pria dan wanita diciptakan berbeda.

Gerakan emansipasi wanita cukup berhasil di negeri ini. Tidak sedikit wanita yang bekerja menopang ekonomi keluarga. Kursi anggota dewan pun dijatahkan 30% untuk kaum hawa. Tak sedikit juga pemimpin dari menteri, gubernur atau bupati yang berasal dari kaum wanita. Bahkan sebagian menorehkan prestasi.

Namun emansipasi tidak dapat diterapkan dalam semua bidang. Misalnya di kereta. Seorang rekan saya mengeluh ketika seorang wanita muda memintanya untuk memberikan tempat duduknya kepada wanita itu. Katanya:

“Perempuan itu mau enaknya saja ya, ingin minta kesetaraan hak, tapi giliran nggak enaknya nggak mau”

Bagi saya tentu saja hal tersebut wajar karena pada dasarnya wanita ingin dilindungi. Ada ungkapan yang cocok mengenai hal ini. “Tidak ada tempat duduk bagi pria yang sehat di kereta”

Atau misalnya tentang gerbong wanita. Saya tidak setuju dengan para feminis yang memandang gerbong wanita sebagai kemunduran dalam feminisme. Justru hal tersebut bermaksud untuk menghormati kaum wanita.

Wanita dan pria berbeda. Dalam banyak aspek wanita dan pria memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun tetap saja dalam hal-hal tertentu ada kalanya kita harus mengakui kodrat kita sebagai pria atau wanita. Pemahaman feminisme yang salah kaprah yang ingin menyamakan segalanya alih-alih mengangkat harkat wanita malahan dapat merusak tatanan sosial.

Wanita diciptakan berbeda dengan pria. Wanita dan pria memiliki fungsi dan perannya masing-masing. Dalam keluarga suami wajib mencari nafkah dan istri tidak diwajibkan. Wanita hamil dan melahirkan sedangkan pria  tidak. Kerenanya perempuan seharusnya memiliki peran lebih dalam mendidik anak. Karena anak yang baik dan cerdas selalu lahir dari ibu yang baik dan cerdas pula. Di sinilah sebenarnya peran dasar wanita dalam membangun bangsa.

 

sumber gambar: disini