My Notes

Jack, Jo dan Memet

Posted on: September 21, 2010

Jack : si AU yang mana Jo, yang ada kacanya apa nggak?

Jo    : bukan yang itu, itu mah punya si DT, berarti yg satunya lagi yg ada kacanya…

Memet : Jo,, si JFK nginep yah? Kok jam segini belom nongol..

Jo : iya, tadi pagi dia bilang nginep. Tapi gak tau nih kalo JTR,,

———–

Dimanakah percakapan ini terjadi?

Yup, Jo, Jack dan Memet adalah penjaga di tempat penitipan motor di stasiun. Lucu juga, mereka kadang nggak apal nama tapi jenis motor dan plat nomer pelanggannya sudah di luar kepala. Awalnya yang bekerja di sana Jack sama Jo, tapi belakangan ini karena semakin ramai dibantu sama Memet.

Pertama kali nitipin motor di sana gw minta semacam karcis tanda bukti gitu karena gw khawatir kenapa-napa , jadi kan ada buktinya tuh. Tapi semakin hari semakin kenal jadi gak pake tuh karcis-karcis lagi. Lama-lama bahkan kunci, stnk, jaket dan anak (loh?) pun dititipin ke dia.

——

Khas Indonesia. (Loh? Apaan sih?). Maksud gw cerita tadi itu menggambarkan budaya Indonesia. (Yang mananya bos?). Ya, maksudnya interaksi, kekeluargaan dan kepercayaan itu khas Indonesia. (ah masak sih??). Bayangin di negara maju gak bakalan ada pola yang kayak gitu, pasti semua pake yang resmi, ada karcis dan sebagainya. Di Jepang bahkan penitipan sepeda pake mesin.

Di negara maju mau beli minum aja tinggal masukin koin, mau bayar bis tinggal gesek kartu, nyuci mobil tinggal masukin ke mesin pencuci, semuanya serba mesin. Mesin ini meninggalkan peran manusia sehingga interaksi menjadi minim. Makanya negara-negara maju orangnya cenderung individualis. Di Indonesia jauh berbeda. Di pertigaan deket rumah gw aja yang jelas-jelas udah ada lampu merahnya masih ada polisi cepek. Di kereta, minuman ditawarin sama penjualnya langsung. Mau bayar bis kadang musti cekcok dulu sama kernetnya.

Bagi gw interaksi kayak gitu memunculkan sebuah rasa yang berbeda. Ada semacam nuansa karena melibatkan pandangan mata, susunan kata, raut wajah, nada bahkan melibatkan hati dimana tiap variabel tersebut menentukan kualitas interaksi kita. (lebay ah..). Interaksi yang baik menghasilkan pertemanan, persahabatan, cinta, kepercayaan, kekeluargaan tergantung subjek dan objek interaksinya.

Belakangan ini majunya teknologi bagi gw mengurangi kualitas interaksi kita. Dulu kalo seorang kekasih membuat surat cinta di kertas dan diselipkan di laci meja, abad ini orang menggunakan sms, imel, fesbuk, twiter. Dulu kalau tiap hari raya pak pos sering datang nganterin kartu ucapan, sekarang nggak ada lagi, yang ada sms yang berdering gak berhenti-henti.

Kenapa mengurangi kualitas interaksi? Karena dalam interaksi seharusnya ada rasa yang tersampaikan. Rasa ini yang kadang menurut gw tidak tersampaikan dalam komunikasi di era modern ini. Sebenarnya ada cinta dalam goresan pena dan ada rasa yang ikut dalam sebuah kartu ucapan. Ada sesuatu yang kurang dalam sms, komen di wall fb, twit. Ada rasa yang tertinggal. (loh kok st12??)

—-

(ah, itu mah elunya aja yang melankolis romantis,, ini zaman modern cuy,, orang bisa menghasilkan jutaan dolar dari internet!!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: