My Notes

Archive for September 2010


Kalo orang Inggris sarapan toast, daging dan tomat goreng plus secangkir kopi, orang amerika  sarapan scrambled egg dan sari jeruk atau sereal, orang Indonesia sarapan bubur ayam. Menu sarapan di Indonesia sebenarnya banyak juga, yang umum selain bubur ayam ada nasi gorang, nasi uduk, bubur kacang hijau, bubur sumsum atau lontong sayur (dan banyak lagi tentunya).

Bicara tentang bubur ayam tentu ada beribu macam varian di Indonesia. Ya sayangnya berhubung saya orang Bogor dan sangat jarang keluar kota apalagi ke luar negeri, kali ini saya mau mengulas tipe-tipe varian bubur ayam yang pernah saya cicipi saja.

Sebelumnya untuk mempermudah mari kira kelompokkan komponen dari semangkuk bubur ayam. Berdasarkan RSNI nomer 03-6652-2002 suatu makanan akan disebut sebagai bubur ayam apabila mengandung sedikitnya lima kompenen berikut; 1. Bubur, 2. Ayam yang disuir-suir (baku nggak yah bahasanya?), 3. Bumbu 4. Krupuk 5. Lain-lain (kecap, kacang, usus, hari, bawang goreng). Bubur sendiri bervariasi nggak jauh di lima komponen utama tersebut.

Bubur dalam hal ini adalah nasi yang dimasak sampai menjadi bubur. Berdasarkan pengalaman gw ada dua jenis bubur ini. Yang pertama yaitu di buburnya udah dikasi garam sewaktu di masak jadi rasa asinnya udah nyatu di dalam bubur. Yang kedua buburnya tawar nggak dikasi garam, dan dikasi garam dengan cara ditaburi di atas buburnya saat dituang di mangkuk. Sensasi rasa dari kedua jenis bubur ini cukup terasa. Tipe pertama rasa asinnya menyatu, sehingga rasa dasar si bubur yang tawar sudah hilang menjadi rasa asin. Rasa asinnya kontinyu (ini istilah matematika gan). Dan rasa asinnya pun bukan rasa garam asli karena sudah nyampur sama butiran nasinya. Tipe kedua, klo gw bilang kata yang paling tepat untuk menggambarkan, yaitu rasa asinnya diskret (kalo agan bingung apa maksudunya cek disini). Rasa asinnya jadi tidak menyatu cuman tersebar menjadi titik-titik dimana garam itu jatuh. Efeknya tentunya rasa tawar si bubur itu masih kerasa ditambah rasa asli garam yang kerasa di titik-titik tertentu membuat sensasi yang paling gw suka. Berdasarkan pengamatan gw tipe di daerah Jakarta semua buburnya tipe pertama, dan tipe kedua baru gw jumpai di daerah gw, Bogor.

Dari segi bumbu berhubung gw bukan orang yang ahli dan peka dalam kuliner gw gak terlalu ngerti banget. Secara umum ada dua kecenderungan jenis bumbu yaitu tipe asin dan tipe manis. Walaupun begitu bukan berarti yang asin nggak ada manisnya dan sebaliknya, mungkin lebih tepat gw menyebutnya dominan manis dan dominan asin. Dari bumbunya ada yang pake semacam bumbu opor yang mengandung santan dan lebih banyak gw temuin pake cairan coklat dalam botol yang gw gak tau itu kandungannya apa dan ada lagi (baru-baru ini gw nemu) yang pake semacam bumbu sop atau soto (sebenarnya sih bukan sop atau soto, cumin mirip, jadi maaf gw gak bisa ngejelasin lebih baik dari kata ini). Jenis opor atau bumbu sop/soto itu umumnya dominan asin, walaupun biasanya yang opor itu dikasi sedikit kecap, tapi untuk tipe bumbu sop/soto gak pake kecap. Untuk tipe cairan coklat dalam botol rata-rata dominan asin, walaupun di beberapa tempat ada yang cairan coklat dalam botolnya dominan manis. Dan walaupun gak tepat, tapi bubur di bogor cenderung asin dan di Jakarta rata-rata manis.

Selanjutnya untuk ayam semuanya sama, ayam yang disuir-suir. Krupuk macem-macem yang dipake dan ada juga yang pake emping. Kalo yang lain-lainnya seperti kacang, usus, hati, bawang goreng, seledri, menurut gw standar-standar aja dan gak mempengaruhi rasa si bubur ayam secara signifikan.

Nah, dari perilaku orang yang makan bubur ada dua jenis dari yang gw perhatikan. Ada mazhab kontinyu dan mazhab diskret. Para penganut kontinyu mengaduk-ngaduk si bubur sehingga menjadi nyatu semua dari bubur, ayam, bumbu dan pernah-perniknya. Hasil pengadukan tersebut kalo gw perhatikan menjadi semacam bentuk visual makanan yang menjijikkan walaupun rasanya tidak menjijikkan. Sedangkan penganut mazhab diskret tidak mengaduk tapi membiarkan apa adanya si bubur, ayam dan bumbunya. Gw sendiri adalah penganut mazhab diskret sejati.

Salah satu tempat bubur favorit gw adalah bubur di samping Matahari dept Store, deket stasiun. Tempat itu sebenarnya selain menjual bubur menjual banyak yang lain seperti soto, sate, nasi goreng, nasi uduk dll. Ada yang shift pagi dan ada yang shift siang-malam. Tukang buburnya pun ada yang pagi ada yang siang. Keduanya jenisnya sama, bubur diskret dengan cairan coklat dalam botol cenderung asin plus emping dan pernak-perniknya. Tapi kalo mau dibandingin gw lebih suka yang shift pagi.

Advertisements

Jack : si AU yang mana Jo, yang ada kacanya apa nggak?

Jo    : bukan yang itu, itu mah punya si DT, berarti yg satunya lagi yg ada kacanya…

Memet : Jo,, si JFK nginep yah? Kok jam segini belom nongol..

Jo : iya, tadi pagi dia bilang nginep. Tapi gak tau nih kalo JTR,,

———–

Dimanakah percakapan ini terjadi?

Yup, Jo, Jack dan Memet adalah penjaga di tempat penitipan motor di stasiun. Lucu juga, mereka kadang nggak apal nama tapi jenis motor dan plat nomer pelanggannya sudah di luar kepala. Awalnya yang bekerja di sana Jack sama Jo, tapi belakangan ini karena semakin ramai dibantu sama Memet.

Pertama kali nitipin motor di sana gw minta semacam karcis tanda bukti gitu karena gw khawatir kenapa-napa , jadi kan ada buktinya tuh. Tapi semakin hari semakin kenal jadi gak pake tuh karcis-karcis lagi. Lama-lama bahkan kunci, stnk, jaket dan anak (loh?) pun dititipin ke dia.

——

Khas Indonesia. (Loh? Apaan sih?). Maksud gw cerita tadi itu menggambarkan budaya Indonesia. (Yang mananya bos?). Ya, maksudnya interaksi, kekeluargaan dan kepercayaan itu khas Indonesia. (ah masak sih??). Bayangin di negara maju gak bakalan ada pola yang kayak gitu, pasti semua pake yang resmi, ada karcis dan sebagainya. Di Jepang bahkan penitipan sepeda pake mesin.

Di negara maju mau beli minum aja tinggal masukin koin, mau bayar bis tinggal gesek kartu, nyuci mobil tinggal masukin ke mesin pencuci, semuanya serba mesin. Mesin ini meninggalkan peran manusia sehingga interaksi menjadi minim. Makanya negara-negara maju orangnya cenderung individualis. Di Indonesia jauh berbeda. Di pertigaan deket rumah gw aja yang jelas-jelas udah ada lampu merahnya masih ada polisi cepek. Di kereta, minuman ditawarin sama penjualnya langsung. Mau bayar bis kadang musti cekcok dulu sama kernetnya.

Bagi gw interaksi kayak gitu memunculkan sebuah rasa yang berbeda. Ada semacam nuansa karena melibatkan pandangan mata, susunan kata, raut wajah, nada bahkan melibatkan hati dimana tiap variabel tersebut menentukan kualitas interaksi kita. (lebay ah..). Interaksi yang baik menghasilkan pertemanan, persahabatan, cinta, kepercayaan, kekeluargaan tergantung subjek dan objek interaksinya.

Belakangan ini majunya teknologi bagi gw mengurangi kualitas interaksi kita. Dulu kalo seorang kekasih membuat surat cinta di kertas dan diselipkan di laci meja, abad ini orang menggunakan sms, imel, fesbuk, twiter. Dulu kalau tiap hari raya pak pos sering datang nganterin kartu ucapan, sekarang nggak ada lagi, yang ada sms yang berdering gak berhenti-henti.

Kenapa mengurangi kualitas interaksi? Karena dalam interaksi seharusnya ada rasa yang tersampaikan. Rasa ini yang kadang menurut gw tidak tersampaikan dalam komunikasi di era modern ini. Sebenarnya ada cinta dalam goresan pena dan ada rasa yang ikut dalam sebuah kartu ucapan. Ada sesuatu yang kurang dalam sms, komen di wall fb, twit. Ada rasa yang tertinggal. (loh kok st12??)

—-

(ah, itu mah elunya aja yang melankolis romantis,, ini zaman modern cuy,, orang bisa menghasilkan jutaan dolar dari internet!!)

This is the last Dan Brown’s novel. I just have finished reading this book a couple weeks ago. Like its predecessor (2000: Angels and Demons, 2003: The Da Vinci Code), it is a thriller with Robert Langdon as a main character. The story set in Washington DC. Like another Brown’s novel, the novel contains of conspiracy things such ancient mystery, secret organizations, religion and many others.  And also he put some words describing high-end technologies, latest science and some enormous monuments in DC. The novel begins with this:

FACT:

In 1991, a document was locked in the safe of the director of the CIA. The document is still there today. Its cryptic text includes references to an ancient portal and an unknown location underground. The document also contains the phrase “It’s buried out there somewhere.”

All organizations in this novel exist, including the Freemasons, the Invisible College, the Office of Security, the SMSC, and the Institute of Noetic Sciences.

All rituals, science, artwork, and monuments in this novel are real.

Reading this paragraph in the beginning indeed raises a lot of questions in my mind. What document is it? What’s its relationship with CIA? And also what freemasonry, the invisible college, SMSC and office of security are?

These questions made me curious to continue reading this book. This also happened while I read previous Brown’s novel. Such a thing also appeared in Dan Brown’s novel, he tried to make readers curious about the rest of story.

If you have ever read one or some Brown’s books, you must agree that while reading his novel you feel as if you are in the middle of action movie. Your hearth is pounding because the story full of startle moment, full of intrigue and the plot is very fast. This -contains more than 500 pages book- only takes over about 12 hours of story.

I’m not going to show you all the details because you can read it if you want. Herein I just want to talk what Brown want with this book. We all (Dan Brown reader I mean) know that Dan Brown is tend to put nonmainstream topic in his novels. Like Christianity History in Da Vinci Code and Science vs Religion in Angels and Demons. In this novel, Brown talks about the secret organization: Freemasonry. I wonder if Brown want to bring this idea covered with a thriller story or he did the inverse. For me it is more logic the first one.

Well, in this novel the main idea is about Freemasonry. I’m not a conspiracy theory maniac nor student or an expert in such thing so I don’t have enough knowledge to share about Freemasonry. But many books said that Freemasonry is a secret organization which aims to control the world and has controlled many aspects in our life. They are in many great companies, in government and try to make people away from their faith. But Brown wrote this instead:

…Masons had always been one of the most unfairly maligned and misunderstood organizations in the world. Regularly accused of everything from devil worship to plotting a oneworld government, the Masons also had a policy of never responding to their critics, which made them an easy target…. (chapter 23)

It is very clear that the sentence contrary to my thought at first. So what are they actually? Maybe this quote could explain, it is about chamber of reflection,,,

“It’s called a Chamber of Reflection. These rooms are designed as cold, austere places in which a Mason can reflect on his own mortality. By meditating on the inevitability of death, a Mason gains a valuable perspective on the fleeting nature of life.”

At the end, here is the conclusions……

……..thought about how every culture, in every country, in every time, had always shared one thing. We all had the Creator. We used different names, different faces, and different prayers, but God was the universal constant for man. God was the symbol we all shared . . . the symbol of all the mysteries of life that we could not understand. The ancients had praised God as a symbol of our limitless human potential, but that ancient symbol had been lost over time………

Yups, some people called it “pluralism” which believe that all religion are the same. And God is one but we called it with different names. What the hell?

I hope I could keep unfazed from this very very absurd idea. No less than 17 times I pray this in a day…

You (alone) we worship, and You Alone we ask for help (for each and everything)

Guide us to the Straight Way

The Way of those on whom You have bestowed Your Grace, not (the way) of those who earned Your Anger nor those who went astray..

Gw sebenarnya agak bingung kenapa banyak mahasiswa yang punya topik skripsi yang susah-susah. Bukan kenapa-napa, sebenarnya sih boleh-boleh aja, cuman kan sebenarnya inti dari skripsi tuh buat memberikan solusi, btul gak? Jadi gak perlu susah-susah juga gak apa-apa yang penting kita memberi solusi atau setidaknya saran yang cukup ilmiah dan berdasar.

Sebenarnya ada banyak ide yang sempet muncul tentang topik skripsi gw:

  • Analisis Sosial-Psikologis Penyebab Mahasiswa teknik sipil banyak yang di DO
  • Analisis Biaya Operator Provider Ponsel yang paling murah
  • Pebandingan pengeluaran memiliki satu hape gsm, “dua hape gsm dan cdma” atau” keduanya gsm”
  • Perbandingan Metode menyerut dengan alat penyerut dan silet/cutter

Eh, jangan salah loh, semua yg kepikiran itu punya alasan yang jelas. Yang pertama jelas kalo dah tau penyebabnya kan kita bisa memberi solusi gimana supaya temen seangkatan kita ato adek kelas kita gak di DO.

Yang kedua ini malah sangat dibutuhin. Kalian pasti bingung kan milih operator mana yang paling oke di tengah perang provider saat ini? Pasti lu mikir gw bego. Kan tergantung temen kita banyaknya punya kartu apa?! keluarga kita pake kartu apa? dll. Tenang..tenang. Itu semua udah kepikiran sama gw. Tentu ada banyak variabel yang perlu diperhitungkan: teman kita dan kartu hapenya apa, frekuensi kita sms dan nelpon temen kita atau ortu kita, statistik waktunya kapan aja, gaya kepenulisan sms alay apa bukan (lu gak tau kan kalo ada beberapa karakter alay yang makan bit data yang lebih dari karakter biasa jadi bisa aja sms itu diitung jadi 2 sms) dan tentunya data biaya dan ketentuan semua provider hape. Nanti lu analisis dan hasilnya bisa lu bikin aplikasi (bisa pake VB). Jadi di aplikasi itu pengguna tinggal isi nama, jenis kelamin, data keluarga, temen, tipe (normal atau alay) dsb. Terus. Jreng. “Sebaiknya anda menggunakan operator xxx”. Cuman, kalau terlalu kompleks berhubung lu masih s1 jadi bisa dikurangi variabelnya. Hehe..

Yang ketiga sih metodenya mirip-mirip sama yang kedua. Berhubung tren masa kini anak muda punya dua hape satu gsm satu cdma. Malah ada yang lebih dari dua. Cuman mungkin ada tambahan variabel, yaitu masa tenggang kartunya.

Yang keempat itu sebabnya karena menurut gw nyerut pake alat penyerut (bisa pengserut ato yang udah keren yang diputer-puter itu) lebih boros dibandingin nyerut pake cutter walaupun agak repot. Yang ini gak terlalu ribet, lu tinggal sebarin pensil ke anak2 SD, sebagian suruh nyerut pake serutan canggih dan yang satunya pake cutter. Kasi waktu sebulan buat nyalin kamus John Ecol (sekalian belajar bahsa inggris). Liat berapa batang pensil yang dibutuhkan dan bandingkan.

Sayangnga ide brilian gw belom ada yang paham jadi belom ada yang mau mendanai penelitian seperti ini. Padahal penting, minimal untuk menjawab kenapa gw lebih suka nyerut pake cutter ato kenapa gw punya dua hape gsm. Setidaknya gw punya perhitungan yang ilmiah jadi ada dasarnya nggak hanya berdasarkan feeling atau metode empiris doank walaupun dalam beberapa kondisi metode empiris kadang lebih ampuh.

Nah, sebenarnya ada ribuan ide lainnya yang muncul di otak gw, cuman sayangnya gak muat ditulis disini. Salah satu topik yang hangat saat ini yaitu gimana caranya menemukan kereta dan gerbong yang kepadatannya minimal saat pulang dari kantor ke rumah. Maklum sebagai pengguna krl hal ini menjadi penting bagi gw…