My Notes

Archive for August 2010

Bayangkan hidup anda berubah drastis menjadi seorang tukang bakso. Entah bisa saja karena PHK, drop out kuliah, dan akhirnya yang anda miliki hanya skill membuat semangkuk bakso yang pernah anda pelajari dulu dari langganan tukang bakso di depan rumah Anda.

Anda yang galau namun punya sisa sedikit kecerdasan tentu tidak akan asal saja membuat bakso, namun Anda sadar kalau semuanya membutuhkan strategi. Lalu mulailah Anda menyusun rencana.

Beruntungnya Anda punya sedikit pesangon dan beruntungnya lagi  banyak teman Anda yang punya utang kepada Anda dan melihat kondisi Anda yang miris sehingga mereka mengembalikan utang-utang mereka sembari memberi tepukan di pundak Anda ketika Anda hendak pulang dan sedikit kata  “Yang sabar ya,,”.

Ditambah hasil penjualan beberapa barang kesayangan Anda maka akhirnya tekumpullah dana yang cukup untuk menyulap rumah mungil Anda menjadi warung bakso. Sembari memandangi uang yang terkumpul, terbersit di pikiran Anda, “Ya,,ya,, Mungkin memang takdir saya menjadi tukang bakso, mungkin memang saya tidak berbakat menjadi mahasiswa atau pegawai kantor, dan Mungkin Yang Maha Kuasa memberi saya jalan kesuksesan lewat jalan ini”. Secercah asa muncul di benak Anda, memberikan sentuhan ketenangan dan semangat untuk memulai hari yang baru.

Dekorasi warung dan segala tetek bengeknya sudah selesai dan Anda melaju pada tahap yang paling menentukan kesuksesan Anda. Meracik Semangkuk Bakso. Dengan segala upaya daya Anda membuat, meracik, maramu, mendesain, merekayasa, dan menyusun konfigurasi semangkuk bakso agar supaya dihasilkan semangkuk bakso yang maknyuss. Kalau maknyus insya4jji suatu hari nanti Bondan Winarno akan mampir ke kios anda bersama kru Trans TV.

Selesailah sudah semangkok bakso terhidang di hadapan Anda. Inilah tahap yang penting. Mencicipi. Bagaimana mungkin Anda tau maknyus atau tidak jika tidak anda cicipi? Maka Anda mengambil sendok dan mencicipinya sedikit. Weew,,, Aneh rasanya. Mungkin tadi pikiran Anda terlalu mengawang-ngawang saat memasak, sampai memikirkan Bondan segala, makadar itu hasilnya terlalu asin dan kurang ini itu. Tenang. Tetap Semangat. Anda lalu teringat kisah Thomas Alfa Edison kalau dia sudah mencoba 999 kali dan baru yang 1000 kali berhasil menemukan lampu listrik. Dengan semangat anda kembali meracik dan berusaha fokus dan tidak bepikir kemana-mana agar hasilnya maknyus.

Sebenarnya pola atau alur ketika merencanakan warung bakso sebenarnya sama saja dengan pola bisnis apapun. Hanya saja mungkin levelnya berbeda, bentuknya berbeda, besarnya berbeda.  Namun pada intinya kan sama-sama saja. Kita merancang produk, kemudian diuji apabila layak salanjutnya dijual. Dan tentunya bukan hanya polanya saja yang sama namun kiat suksesnya pada intinya sama saja.

Pagi ini saya membeli sebuah produk bernama “layanan KRL Jabodetabek”. Saya memilih yang murah meriah saja dan tentunya saya tidak mengharapkan pelayanan yang muluk-muluk. Setelah berdesak-desakan akhirnya sampai juga saya di tempat tujuan.

Sepanjang perjalanan saya sempat berpikir pernah nggak ya pak Direktur PT. KAI atau Pak Menteri Perhubungan nyicipi KRL Ekonomi jam 7 pagi dari Bogor. Bukan apa-apa. Sekadar mencicipi saja tak ada salahnya kan? Toh itu kan masuk dalam lingkup tanggung jawab mereka. Mencicipi biar sekadar tahu saja nggak lebih. Nanti pak menteri bisa turunnya di Juanda, nggak bisa di Gambir soalnya ekonomi nggak behenti di situ. Nanti dari sana bisa naik ojek ke kantor Bapak. Tapi saran saya nanti ajudan Bapak siap-siap aja di juanda takutnya Bapak pingsan pas turun. Ah, Tapi nggak usah gak apa-apa kok. Tiap hari banyak orang-orang yang naik tapi gak kenapa-kenapa juga, jadi nggak usah khawatir.

Tidak. Nggak. Nggak bisa kayak gitu. Nggak bisa dianalogikan seperti itu. Masak jualan bakso dianalogikan sama pelayanan kereta api. Masak pak Menteri disuruh berdesak-desakan naik krl dianalogikan sama tukang bakso yang nyicipin baksonya?? Kalo mau bikin analogi parameternya harus mempresentasikan dengan baik satu-sama lain dong,, ini kan beda..

Ini kan pelayanan publik. KRL murah kan stimulus ekonomi biar semua orang bisa kerja dan ekonomi berjalan. Karena itu kelas ekonomi pelayanannya gitu-gitu aja. Lagian gak tau apa kan krl itu disubsidi? Jadi analogi yang anda buat itu absurd tau nggak?. Absurd.

Pusing..

Saya memang tidak punya kapasitas untuk menganalisis fenomena ini. Saya ekonom bukan, pakar kebijakan pemerintah bukan. Makanya mikirin kayak gitu aja pusing jadinya. Tapi ini kan negara demokrasi jadi saya juga boleh dong berpendapat??

Mungkin ada perameter yang terlupakan dalam analogi saya. Di dunia Anda sebagai tukang Bakso, semua orang harus makan Bakso biar hidup, biar survive. Jadi anda sebagai penjual nggak usah bikin yang enak-enak gak apa-apa. Akan tetap laku apapun yang terjadi. Toh Anda sudah berbaik hati menjadikan harga bakso Cuma 2000 rupiah. Walaupun kadang ada pelanggan yang kadang muntah dan sakit perut di rumah. Yang penting hidup. Survive.

I just have watched an “indie” movie entitled “have dream, will travel”. It is a drama with AnnaSophia Robb playing in it. The story is about a boy (Ben) and a girl (Cassie) who got married at a very very young age (12 years old) and successfully keep their relationship until they get old. And apparently both I and my roommate Mehdi (actually he had recommended this film) love these quotes:

Cassie said: “A pipe dream is an unrealistic fantasy that deludes oneself into thinking that it’s an actual plan. But a real plan is an actual goal that you believe in enough to create a set of circumstances which leads you to and into a plan”

I will therefore briefly set down the circumstances which led Cassie saying that. The drama set in 1960s. Ben lives with his neglecting parents. His father is obsessed with his boat; spends whole day with his boat. And his mother is obsessed with movie stars; every afternoon she goes to the theater, and spends all day reading cinema magazines. One night his father brings a girl who just survived from wreck to their house. The girl, Cassie, got a broken arm, and having no more parents she lodged there until she can move to her grandma’s house.

Then the girl and the boy are getting close. One day, Cassie instead convinced Ben to run away from home to live with her aunt and uncle in Baltimore. Having no money for the trip Ben steals their parent’s money. Their first stop is at a pig farm run by Henderson, who presides over a small wedding ceremony for them. Then they hitchhike through Arkansas, Kentucky and Virginia until they reach Baltimore.

Just after step out from Ben home, they both realize that they are facing a real life. So, they try to make up their mind what they wanna be in future. They try to make a life plan, even they are 12 years old still. Yups, in this situation the mature girl Cassie (Cassie’s Dad was a professor) explain the importance of having a plan and describe a pipe dream and a plan.

Ben wants to be a pitcher in Major League. At the time, every boy in United States has the same thing in his mind like Ben’s dream. Since confess his dream, Ben begin practicing to be a pitcher. Cassie helps him every day.

When they are adults, Cassie becomes an editor for children’s stories and Ben becomes a pitcher in Major League Baseball until his arm gives out, after which, like what Cassie planned, Ben becomes a writer. They eventually get married and have two kids.

The movie tells us how plan become very important to our live. There’s what happens to you in life and there’s what you make happen. It’s the difference between having a plan and not. Then, let us focus how we mark of a plan from a pipe dream. Cassie had given the key-phrases, they are; believe enough, create circumstances, lead to and into a plan.

Most people do need a plan. Life is crazy enough without one. Sometimes it’s hard knowing if you should or shouldn’t do something. So, you do what feels right at the time.