My Notes

NEW!!

Posted on: January 16, 2012

I started a new blog!!!

http://sekalengkopi.wordpress.com/

PASSION

Posted on: May 30, 2011

What is your passion?

Maaf  yah, saya gak tau ini gambar asalnya dari mana,, tapi isinya begitu menohok!!!

Tags:

Beberapa waktu lalu saya membaca kumpulan cerpen A. A. Navis, Robohnya Suaru Kami. Saya sangat suka dengan cerpen pertama yang sama dengan judul bukunya. ini dia:

—————-

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah meminta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi.

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah kepada Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, “Pisau siapa, Kek?”
“Ajo Sidi.”
“Ajo Sidi?”
Kakek tidak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang2-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pemeo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan jadi pemimpin berkelakukan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pemimpin tersebut kami sebut pemimpin katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek akan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi, “Apa ceritanya, Kek?”
“Siapa?”
“Ajo Sidi.”
“Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggoroknya.”
“Kakek marah?”
“Marah? Ya kalau aku masih mudah, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diriku kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah di sini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
“Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. ‘Alhamdulillah’ kataku bila aku menerima karunia-Nya. ‘Astagfirullah’ kataku bila aku terkejut. ‘Masya Allah’, kataku bila aku kagum. Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.”

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku. “Ia katakan Kakek begitu, Kek?”
“Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya.”
Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi. Tapi aku lebih ingin mengetahui apa cerita Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

“Pada suatu waktu,’ kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
‘Engkau?’
‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’
‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’
‘Ya, Tuhanku.’
‘Apa kerjamu di dunia?’
‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’
‘Lain?’
‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’
‘Lain?’
‘Segala tegah-Mu kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dihumbalangkan iblis laknat itu.’
‘Lain?’
‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’
‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.
‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’
‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’
‘Lain?’
‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang aku lupa katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu.’
‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’
‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’
‘Masuk kamu.’
Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia dibawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita disuruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’
‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang di antaranya.
‘Ini sungguh tidak adil.’
‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.
‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’
‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’
‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.
‘Kalau Tuhan tidak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.
‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.
‘Itu tergantung pada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’
‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita peroleh,’ sebuah suara menyela.
‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’
Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, memprogandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.
‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’
‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’
‘Ya benarlah itu, Tuhanku.’
‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’
‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’
Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?’
‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’
‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’
‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’
‘Negeri yang lama diperbudak orang lain?’
‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’
‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’
‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau tetap rela melarat, bukan?’
‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’
‘Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’
‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’
‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?
‘Ada, Tuhanku.’
‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!’

Semua pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang dikerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.
‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.
‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka kucar-kacir selamanya.

Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.’ ”

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.
Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.
“Siapa yang meninggal?” tanyaku kaget.
“Kakek.”
“Kakek?”
“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”
“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.
Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.
“Tidak ia tahu Kakek meninggal?”
“Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”
“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab,
“dan sekarang ke mana dia?”
“Kerja”
“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.
“Ya, dia pergi kerja.”

Tempo hari saya seperti biasa naik krl ekonomi AC jam 6-an dari Kalibata. Karena saking penuhnya gerbong, ada kaca yang dibuka. Ya karena kepanasan apa boleh buat.

Hingga sampailah di stasiun Citayam. Tiba-tiba saat kereta hendak melaju  ada tangan yang bergerak cepat dari luar hendak merebut ponsel salah seorang penumpang. (Modus seperti ini udah sering sekali, si penjambret merebut  saat kereta mau jalan jadi gak bisa dikejar, kadang selain ponsel kalung juga sering direbut).

Lanjut ya. Sampe dimana tadi? Oh iya.. tiba-tiba ada tangan yang bergerak cepat dari luar. Maksudnya ponsel yang dituju namun sayang angin yang didapat. Lebih sial lagi tangannya tertangkap oleh orang yang berdiri di dalam!!! Gawat!!!

Penumpang yang kesal dan geram tentu saja berusaha mencengkeram tangan si penjambret ini. Apalagi keadaan gerbong penuh, otomatis orang-orang yang lain pun ramai-ramai menahan tangan itu. Lebih gawat lagi tentu saja karena kereta berjalan. Tanpa daya si penjambret-gagal ini harus lari mengikuti peron mengikuti laju kereta. Dan tentu saja peron akan habis!!! Daaan,,, akhirnya peron habis dan si penjambret tergantung di luar dengan satu tangan tertahan dalam gerbong,,, I can’t imagine how it feels,,,

Orang-orang dalam gerbong pun histeris. “ Masukin aja!! Mati dia nanti kalau jatuh!!!”, seru beberapa orang. “Iya, masukin aja,,!!!!”, seru penumpang lain. Dan akhirnya si penjambret pun berhasil dipaksa masuk ke dalam kereta. Dan mulailah pembantaian terjadi.

Tanpa daya si penjambret yang ternyata pemuda tanggung ini dipukul, ditendang, seluruh wajah dan badannya. Penumpang wanita berteriak-teriak histeris. “Kyaaa….  Udah pak, kasihan,,, kasihan!!!”. Namun apa lacur, orang-orang ini sudah liar, tak peduli seruan para wanita.

Untunglah ada salah seorang berwibawa yang meredam kemarahan itu. Dan si penjambret pun diseret untuk diserahkan ke petugas KA, dan diturunkan di stasiun Bojong.

Dada saya masih bergetar padahal penjambret sudah diturunkan. Kekerasan benar-benar terjadi di depan mata saya!! Bahkan lebih kejam dari yang pernah saya lihat di televisi!! Kasihan betul anak pada usia yang seharusnya sekolah malah menjadi pencuri,, Apakah dia sekolah? Apakah dia punya rumah? Apakah dia punya Ayah punya Ibu? Apa yang akan dikatakan oleh orangtuanya ketika sampai di rumah dalam keadaan babak belur? Kenapa kamu menjambret? Apakah kamu tidak punya uang? Kalau tidak , makan apa kamu nanti malam? Untuk apa uang itu sekiranya kamu berhasil menjambret? Untuk beli makanan kah? Untuk senang-senang kah?

Oh,, semoga,, semoga,,, semoga dengan peristiwa ini dia sadar bahwa mencuri itu perbuatan bodoh.. Semoga dia sadar bahwa dia masih diberi umur, karena bisa saja tadi dia jatuh dan mati,,, semoga dia berubah,, semoga….

Dan tugas kita semua,, mengentaskan kemiskinan, melangsungkan pendidikan bagi semua anak, supaya suatu hari nanti, tidak ada lagi anak jalanan yang mengemis dan mencopet.. semoga..

Ya Allah tolonglah Bangsa kami,,,,,


Suatu ironi yang amat menyesakkan dada ketika melihat masyarakat Papua yang dibiarkan bodoh dan miskin padahal mereka memiliki gunung emas di tanah yang mereka pijak. Penduduk asli papua ‘dilestarikan’, dibiarkan bodoh, bahkan dalam berpakaian pun masih dibiarkan primitif. Tanahnya yang kaya akan emas, perak, tembaga dan uranium tidak membuat mereka sejahtera. Sekelompok pengkhianat bangsa dan kroni-kroninya bekerjasama dengan sekelompok bangsa asing merampok dan menjarah Papua, membuat diri mereka sendiri kaya raya dan menyisakan kepedihan yang teramat sangat di tanah Papua.

Sampai hari ini masyarakat Papua masih dijerat dalam kemiskinan. Mereka hanya melihat dari luar gemerlap Freeport. Menonton tanpa daya saat berton-ton emas dan mineral lain diangkut oleh kapal-kapal Amerika, menghasilkan jutaan dollar yang dinikmati sekelompok orang  belahan Bumi yang lain.

Bukan hanya itu saja, pemerintah pun seakan tidak berdaya. Dari keuntungan perusahaan ini, hanya 1% saja yang diberikan kepada pemerintah Indonesia (sumber: IHSC). Bahkan, selama 20 tahun lebih mereka mengaku hanya menambang tembaga, padahal telah terbukti sejak tahun 1978 mereka menemukan emas di sana.

Seandainya saja semua kekayaan ini kita kelola sendiri, maka jumlah keuntungan yang didapat akan sangat luar biasa. Lebih dari cukup untuk mengadakan pendidikan dan kesehatan gratis di seantero Nusantara. Namun sayangnya Amerika menjajah. Amerika merampas. Padahal putra-putri bangsa ini lebih dari mampu untuk mengelola tambang tersebut. Sayangnya, pada suatu rezim dahulu ditekan kontrak oleh seorang pengkhianat (yang baru-baru ini diusulkan menjadi pahlawan nasional) yang isinya sangat merugikan bangsa ini. Padahal, undang-undang jelas mengamanatkan.

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (UUD Pasal 33 ayat 3)

Lihatlah gambar di awal tulisan ini. Papua benar-benar memiliki gunung emas, namun kini yang tersisa berupa kawah, sebuah refleksi ketamakan yang sungguh biadab. Sudah telambatkah kita menyelamatkannya? Belum. Para ahli memperkirakan masih terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1430 ton cadangan emas yang tersisa.

Hei Penjajah!! Enyahlah kau dari tanah Papua!! kami tidak akan membiarkan tanah kami diinjak-injak, Bumi kami dirampas, sedikitpun,,, Tidak akan..

Beberapa waktu lalu ketua DPR kita pak Juki melakukan bulnder besar. Bagaimanapun juga pernyataannya tidak menunjukkan kecerdasan, empati dan kepemimpinannya sebagai ketua parlemen. Berikut ini opini yang dimuat di salah satu surat kabar dan balasannya dari pak Juki.

 

klik untuk memperbesar artikel

sumber: kompas, 1 Nov 2010

 

 

sumber: kompas, 4 Nov 2010

Pasti sudah pada tau kan kalo sejak beberapa waktu yang lalu PT. KAI membuat kebijakan tentang adanya gerbong khusus wanita di KRL Jabotabek. Nah, entah betul atau tidak (karena saya belum menanyakan satu per satu), nampaknya sebagian wanita merasa senang dengan kebijakan ini karena dengan begitu mereka akan terhindar dari kejadian-kejadian buruk yang sering menimpa wanita.

Latar belakang kebijakan ini adalah sesaknya gerbong-gerbong kereta pada kondisi puncak sehingga sering terjadi pelecehan seksual. Dengan adanya pemisahan ini maka para wanita yang ingin aman dari risiko tersebut dapat memilih gerbong khusus wanita.

Namun anehnya hal ini bukanlah suatu kemajuan bagi dunia feminisme. Bagi mereka hal ini merupakan suatu kemunduran. Hal ini terlihat dari beberapa media memuat tulisan yang membahas hal ini. Ada juga sebagian wanita yang merasa adanya kebijakan ini menunjukkan bahwa wanita itu lemah sehingga harus dibuat gerbong khusus.

Dalam pandangan feminis, seharusnya manusia tidak dilihat dari seksualitasnya, namun dari kualitas dan kapasitasnya. Contoh sederhana misalnya dalam menduduki jabatan, yang harus dipertimbangkan adalah kemampuannya dalam menjalankan jabatan tersebut, bukan gendernya. Alkisah, Raden Ajeng Kartini didaulat menjadi simbol feminisme karena upayanya mendapatkan hak pendidikan yang setara bagi kaum wanita.

Saya dalam sebagian hal setuju dengan pandangan tersebut. Namun tentunya hal ini tidak mutlak berlaku dalam segala aspek karena pria dan wanita diciptakan berbeda.

Gerakan emansipasi wanita cukup berhasil di negeri ini. Tidak sedikit wanita yang bekerja menopang ekonomi keluarga. Kursi anggota dewan pun dijatahkan 30% untuk kaum hawa. Tak sedikit juga pemimpin dari menteri, gubernur atau bupati yang berasal dari kaum wanita. Bahkan sebagian menorehkan prestasi.

Namun emansipasi tidak dapat diterapkan dalam semua bidang. Misalnya di kereta. Seorang rekan saya mengeluh ketika seorang wanita muda memintanya untuk memberikan tempat duduknya kepada wanita itu. Katanya:

“Perempuan itu mau enaknya saja ya, ingin minta kesetaraan hak, tapi giliran nggak enaknya nggak mau”

Bagi saya tentu saja hal tersebut wajar karena pada dasarnya wanita ingin dilindungi. Ada ungkapan yang cocok mengenai hal ini. “Tidak ada tempat duduk bagi pria yang sehat di kereta”

Atau misalnya tentang gerbong wanita. Saya tidak setuju dengan para feminis yang memandang gerbong wanita sebagai kemunduran dalam feminisme. Justru hal tersebut bermaksud untuk menghormati kaum wanita.

Wanita dan pria berbeda. Dalam banyak aspek wanita dan pria memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun tetap saja dalam hal-hal tertentu ada kalanya kita harus mengakui kodrat kita sebagai pria atau wanita. Pemahaman feminisme yang salah kaprah yang ingin menyamakan segalanya alih-alih mengangkat harkat wanita malahan dapat merusak tatanan sosial.

Wanita diciptakan berbeda dengan pria. Wanita dan pria memiliki fungsi dan perannya masing-masing. Dalam keluarga suami wajib mencari nafkah dan istri tidak diwajibkan. Wanita hamil dan melahirkan sedangkan pria  tidak. Kerenanya perempuan seharusnya memiliki peran lebih dalam mendidik anak. Karena anak yang baik dan cerdas selalu lahir dari ibu yang baik dan cerdas pula. Di sinilah sebenarnya peran dasar wanita dalam membangun bangsa.

 

sumber gambar: disini